Rabu, 12 April 2017

Geger Batavia




“Tidak ada tenaga yang lebih cocok untuk tujuan kita atau yang dapat dikerahkan dengan  sama mudahnya, selain orang-orang Cina” -Jan Pieterszoon Coen-
“Kenapa sih Mbak Santi sering sekali mengulas tentang Tionghoa? ” temanku bertanya. Aku tidak akan memberikan jawaban yang muluk-muluk untuk itu. Bagiku membahas tema Tionghoa begitu menarik selain karena keunikan budayanya, juga karena perkembangan politik akhir-akhir yang menurutku menjurus kepada situasi berbahaya. Bagi segelintir politisi yang tidak bertanggung jawab, mengumbar isu SARA, khususnya yang berhubungan dengan minoritas, memang kerap dianggap sebagai cara jitu untuk membakar emosi publik yang kurang cerdas.  Sejarah membuktikan itu. Apabila kita menarik benang merah dari tindakan pembantaian yang dilakukan tokoh-tokoh seperti Hitler terhadap orang Yahudi,  Radovan Karadžić terhadap muslim di Bosnia, Pemerintah Ottoman terhadap orang Armenia dan lainnya, bisa disimpulkan bahwa kebijakan tersebut seringkali disebabkan oleh sentimen mayoritas terhadap minoritas yang tidak bisa didasarkan atas kemanusiaan dan ajaran agama apapun. Kini jangankan di Indonesia, bahkan di Amerika Serikatpun, yang usia demokrasinya sudah sangat dewasa, seorang Donald Trump yang mengusung isu “anti asing” bisa begitu populer. Hal itu menunjukan bahwa ternyata masih banyak warga Amerika yang berfikiran sempit.
Khusus bagiku adalah hal yang sangat aneh ketika melihat seorang warga Indonesia apalagi Muslim mengusung sentimen SARA. Ajaran Quran yang mana yang menyebutkan suatu suku atau ras diciptakan lebih lebih tinggi atau rendah dibanding lainnya. Malah menurutku seseorang yang mengangkat isu SARA tidak lain telah mengecilkan kekuasaan Tuhan dengan menganggap berkah Tuhan hanya diberikan untuk kaum atau kelompoknya saja. Bukankah Al Quran mewajibkan perlakuan adil kepada siapapun bahkan musuh sekalipun. Ajaran Islam yang sungguh agung itu kini kerap dilupakan oleh pengikutnya, apalagi yang sudah terikat kepentingan politik tertentu.
…Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa… (Q.S. Al Maidah : 8)
Baiklah, intinya marilah kita membuka sudut pandang seluas-luasnya dan berhenti melakukan generalisasi. Tidak ada yang lebih sesat dari generalisasi serampangan. Ada orang Tionghoa yang buruk, ada juga yang baik. Ada orang Arab yang jahat, ada pula yang baik. Begitu pula pribumi dan semua kelompok lainnnya. Ketika ada seseorang melakukan kejahatan, bukanlah kelompok darimana orang itu berasal yang harus kita musuhi, melainkan perbuatan buruk orang tersebut. Umat Muslim di seluruh dunia enggan diidentikan dengan tindakan barbar segelintir teroris, maka jangan pula kita mengidentikan suatu kaum berdasarkan tindakan segelintir anggotanya.
Tuh kan jadi malah melantur ke mana-mana. “Khutbah” di atas kurasa cukup untuk menjadi pengantar kisah “Geger Pacinan di Batavia” yang akan kuulas berikut. Kisah ini kuangkat kembali karena ada segelintir orang yang lagi-lagi dengan pikiran sempitnya berusaha mengangkat kisah tersebut untuk menyerang tokoh atau kelompok tertentu. Entah karena malas membaca atau memang wawasan sejarahnya yang kurang, mereka menginterpretasikan peristiwa pembantaian manusia yang menjadi catatan sejarah memalukan di Batavia ini seenake udel-nya saja. Tanpa berpanjang lebar, berikut adalah kisah Geger Pacinan sebagaimana disarikan dari buku “Hikayat Jakarta” karya Willard A. Hanna (Yayasa Obor Indonesia – 1988). Semoga kita bisa mengambil hikmah darinya.

Tidak perlu lagi disebutkan riwayat hubungan dagang yang terjadi selama ratusan tahun antara kerajaan-kerajaan pribumi dengan negeri Cina sebelum kedatangan bangsa Eropa. Hubungan dagang antar kerajaan asia tersebut berjalan dengan harmonis, tidak seperti Eropa yang cenderung ingin menguasai (dengan segala cara). Untuk menegaskan pengaruhnya sebagai penguasa utama perdagangan, Belanda perlu melemahkan kerajaan-kerajaan pribumi serta seluruh pesaingnya. Karena kekuatan yang terbatas, maka Belanda menerapkan konsep divide et impera yang terbukti efektif. Tindakan Belanda dalam memenangi persaingan dagang, digambarkan dalam suatu kisah berikut :
Suatu kali, misalnya, seorang berkebangsaan Cina menggali terowongan di bawah gudang Inggris untuk meledakannya dan membakarnya, kemudian merampok barang-barang di dalam gudang itu. Usaha ini, yang juga melibatkan orang-orang Belanda, akhirnya gagal, bukan karena kurang seriusnya para pelaku atau berkat kesiagaan korban, melainkan karena sial belaka.
Setelah kedudukannya semakin mantap, Belanda membentuk pelabuhan Sunda Kelapa yang direbutnya dari Banten menjadi sebuah pusat perdagangan terpenting di Asia Tenggara. Perkembangan itu menarik kedatangan ribuan pendatang baru dari Eropa, Cina, dan daerah lain di Nusantara. Pelabuhan yang kemudian dinamai Batavia itu dengan cepat diisi oleh jenis masyarakat baru yang disebut Homo Bataviensis alias orang Betawi.
Orang Batavia asli umumnya bukanlah pribumi, melainkan orang asing berdarah campuran atau berkebudayaan campuran pula.
Belanda selaku penguasa Batavia menerapkan kebijakan rasialis. Orang Eropa menempati posisi teratas, bangsa asing di bawahnya, dan pribumi di tingkat terbawah. Dengan itu rusaklah tatanan masyarakat sebelumnya yang tidak memiliki batasan “kasta”. Salah satu dasar perlakuan diskrimasi tersebut, seperti diakui Gub. Jenderal J.P. Coen adalah karena :
“Tidak ada tenaga yang lebih cocok untuk tujuan kita atau yang dapat dikerahkan dengan  sama mudahnya, selain orang-orang Cina”
Diterangkannya bahwa berlawanan dengan orang pribumi yang berwatak malas, tak mudah diatur dan tak dapat dipercaya, Orang Cina, sebaliknya, rajin, tidak kenal lelah, sangat terampil dan berdisiplin kuat.  Orang-orang Cina tentu saja tidak memiliki banyak pilihan kecuali mengikuti pengkondisian yang diberlakukan kompeni. Namun yang pasti, untuk mencapai visinya membangun Batavia sebagai pusat ekonomi terpenting, Coen mendatangkan ribuan orang Cina untuk diberdayakan.


Mula-mula sekali, kapten-kapten kapal Belanda menculik petani-petani dan nelayan-nelayan Cina di Pantai Cina untuk dibawa ke Jakarta untuk dilelang sebagai kuli kontrak, tetapi tindakan ini segera terbukti tidak perlu dilakukan. Adalah saudagar-saudagar Cina sendiri yang membawa kuli dari Canton dan Amoy untuk dipekerjakan sebagai budak di Batavia. Setelah beberapa tahun, budak-budak itu biasanya telah memiliki usaha sendiri, tak sedikit yang menjadi kaya raya. Karena jumlah wanita dari bangsanya yang masih sangat sedikit, sering terjadi perkawinan antara pendatang dengan pribumi, menghasilkan masyarakat berdarah campuran atau indo.
Singkat cerita jumlah penduduk Cina di Batavia meningkat dengan sangat pesat, membanjiri Batavia hingga ke pinggiran kota. Pada awal abad-18 penduduk Cina kurang lebih telah mencapai jumlah 80.000 orang, kebanyakan bekerja di perkebunan, pabrik-pabrik atau berdagang. Sebagian kecil lain melakukan kejahatan-kejahatan kecil atau kadang mengadakan kekacauan. Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier lantas memutuskan untuk menangkap secara besar-besaran dan mengekspor kelebihan buruh orang Cina ke Ceylon (Srilanka). Kebijakan itu ternyata membawa resiko karena dijalankan secara serampangan dan tak mengenal perikemanusiaan.
Ratusan, barangkali ribuan, orang Cina ditangkap dan dideportasi. Beredar kabar bahwa yang ditangkap bukan hanya orang jahat melainkan mereka juga yang baik-baik… Mereka diangkut dengan kapal dari Batavia, konon kabarnya, mungkin dilempar ke laut jauh sebelum mereka mencapai Ceylon.
Marah mendengar kabar itu, gerombolan-gerombolan orang Cina di pinggiran kota melengkapi dirinya dengan senjata-senjata yang dirampas dari penjaga Belanda, berencana menyerang kota. Pada akhir bulan September 1740, keadaan menjadi genting. Gub. Jenderal Valckenier memanggil Majelis Hindia Belanda untuk mengadakan rapat darurat. Diputuskanlah anggota majelis Van Imhoff dan Van Aarden untuk merencanakan dan mengambil tindakan seperlunya.
Pada awal bulan oktober, gerombolan-gerombolan Cina menyerang dan menguasai kekuatan Belanda di Meester Cornelis dan Tanah Abang, dan pada suatu ketika membinasakan 50 serdadu Eropa. Mencegah kekacauan lebih lanjut, Van Imhoff mengerahkan 1.800 orang pasukan yang dipersenjatai untuk melakukan pembersihan. Pada tanggal 8 Oktober, pasukan Belanda memukul mundur serangan balasan Cina yang kuat di pinggir kota. Keesokan harinya, kerusuhan besar terjadi di pemukiman orang-orang Cina : pembakaran gedung-gedung, kerusuhan, para serdadu menembak ke arah khalayak ramai. Dan terjadilah kepanikan.
…Tiba-tiba secara tidak terduga seketika itu terdengar jeritan ketakutan bergema di seluruh kota, dan terjadilan pemandangan kebiadaban yang paling memilukan dan perampokan di segala sudut kota. Semua orang Cina, tanpa perkecualian, pria, wanita dan anak-anak diserang. Baik kaum wanita yang sedang hamil maupun bayi yang sedang menyusui tidak luput dari pembantaian yang tidak mengenal perikemanusiaan. Para tahanan yang dibelenggu, yang berjumlah ratusan orang itu, disembelih layaknya domba. Beberapa orang Cina kaya, lari mencari perlindungan pada penduduk bangsa Eropa, yang tidak menghiraukan segala prinsip kemanusiaan dan moral, menyerahkannya kepada pemburu-pemburunya yang haus darah, lalu menyelewengkan harta milik yang dipercayakan kepada mereka. Pendeknya, semua orang Cina, baik bersalah atau tidak, dibantai.
Menurut laporan kontemporer, 10.000 orang Cina, termasuk 500 orang tahanan dan pasien rumah sakit telah dibunuh, 500 orang lagi terluka parah, 700 rumah dirusak, dan sejumlah besar barang berharga hilang atau rusak. Orang-orang Eropa, baik militer maupun sipil, sama-sama bersalah melakukan perampokan dan pembunuhan dengan pasukan-pasukan pribumi yang dianggap lebih haus darah dan perampok itu.
Orang-orang Belanda yang berada di dalam kota Batavia, di antaranya para anggota Majelis Hindia Belanda, terkejut atas apa yang terjadi dan menetapkan satu hari masa berkabung yang ditujukan untuk penebusan dosa dan kebaktian agama. Orang-orang dengan seketika melemparkan kesalahan. Anggota dewan dan Gubernur Jenderal saling menuduh yang berujung pada pengunduran diri Valckenier dari posisinya sebagai Gubernur Jenderal. Para Heeren XVII (Direktur VOC) di Belanda yang telah menyelidiki laporan lantas memutuskan untuk menahan Valckenier di kastil Batavia.

Proses itu berlangsung selama 10 tahun lamanya. Valckenier mengajukan dokumen-dokumen pembelaan dirinya yang sedemikian tebalnya, sehingga tidak ada orang yang sanggup mempelajarinya.
Akhirnya, setelah Valckenier meninggal tanggal 20 Juni 1751, pemeriksaan-pemeriksaan resmi ditangguhkan. Akan tetapi, selama bertahun-tahun persoalan Valckenier tetap menjadi kasus Batavia yang termahsyur. Belanda tentu saja tidak ingin kasus itu berkembang ke arah yang lebih membahayakan. Bagaimanapun, Mereka tetap membutuhkan orang Cina sebagai penggerak ekonomi di Batavia. Dalam satu periode setelah kejadian, jumlah penduduk Cina di Batavia melebihi jumlah sebelumnya.
Pembunuhan masal orang-orang Cina di Batavia memicu pemberontakan orang Cina di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang pada gilirannya mengakibatkan kekacauan yang meluas di mana-mana termasuk di dalam kerajaan Mataram.
Banyak orang Tionghoa pelarian dari Batavia berkumpul dan menghimpun kekuatan melawan belanda. Seluruh pantai Jawa, dari Batavia sampai Pasuruan memanas. Pusat revolusi berkembang di Semarang. Berkat kecakapan Tai Wan Sui, pemimpin Tionghoa, maka Bupati-Bupati pesisir menggabungkan diri dengan laskar Tionghoa. Sunan Mataram, yang merasa terancam oleh keadaan itu berbalik mendukung VOC untuk memberantas pemberontakan. Pemberontakan berhasil dipadamkan, namun sebagai gantinya, keraton Mataram juga ikut runtuh. Politik divide et impera Belanda lagi-lagi berhasil.
Peristiwa persatuan para pemberontak Tionghoa dan Pribumi dalam melawan Belanda itu beberapa waktu lalu diabadikan  dalam sebuah monumen “kontroversial” yang berlokasi di Taman Budaya Tionghoa Indonesia, TMII Jakarta. Oleh sebagian orang-orang yang gemar menyesatkan sejarah, monumen tersebut diidentikan dengan laskar tionghoa Po An Tui yang baru eksis dua ratus tahun setelah peristiwa pemberontakan laskar Tionghoa dan Jawa guna melawan Belanda. Aku percaya penyesatan sejarah itu dilakukan bukan tanpa alasan, kecuali menimbulkan perpecahan. Strategi kompeni kembali diterapkan…

Demikian kisah singkat peristiwa Geger Pacinan yang menjadi noda buruk dalam sejarah kolonialisme di Indonesia. Suatu peristiwa yang memalukan bagi Belanda sehingga episode tersebut tidak banyak diekspose dalam buku-buku sejarah bangsa mereka.
Adalah suatu hal yang aneh akhir-akhir ini, ketika seseorang terkemuka di negeri ini mengangkat kisah itu untuk menekan kelompok minoritas yang menjadi “korban” dalam peristiwa tersebut. Ya, hanya korban yang harus mengambil hikmahnya, bukan para pelakunya yang tercatat dalam sejarah sebagai pembantai tak berperikemanusiaan. Seakan-akan menjustifikasi tindakan barbar yang dilakukan Belanda dan antek-anteknya hanya karena kepentingan politik sesaat saja. Penyebab kejadian tersebut, bagaimanapun adalah kebijakan kolonialisme Belanda, sedangkan lainnya hanyalah ekses. Bagaimana mungkin seseorang yang mengaku nasionalis sejati bisa mendukung kebijakan kolonialisme Belanda ?  Silakan cari jawabannya sendiri. Aku hanya bisa berharap agar masyarakat Indonesia bisa belajar dari sejarah, dan berhenti menggadaikan persatuan bangsa yang telah dibentuk dari proses ratusan tahun demi kepentingan politik sesaat. Jadilah orang-orang yang berfikir…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar