“Tidak ada tenaga yang lebih cocok untuk tujuan kita
atau yang dapat dikerahkan dengan sama mudahnya, selain orang-orang Cina”
-Jan Pieterszoon Coen-
“Kenapa sih Mbak Santi sering sekali mengulas tentang
Tionghoa? ” temanku bertanya. Aku tidak akan memberikan jawaban yang
muluk-muluk untuk itu. Bagiku membahas tema Tionghoa begitu menarik selain
karena keunikan budayanya, juga karena perkembangan politik akhir-akhir yang
menurutku menjurus kepada situasi berbahaya. Bagi segelintir politisi yang
tidak bertanggung jawab, mengumbar isu SARA, khususnya yang berhubungan dengan
minoritas, memang kerap dianggap sebagai cara jitu untuk membakar emosi publik
yang kurang cerdas. Sejarah membuktikan itu. Apabila kita menarik benang
merah dari tindakan pembantaian yang dilakukan tokoh-tokoh seperti Hitler
terhadap orang Yahudi, Radovan Karadžić terhadap muslim di Bosnia,
Pemerintah Ottoman terhadap orang Armenia dan lainnya, bisa disimpulkan bahwa
kebijakan tersebut seringkali disebabkan oleh sentimen mayoritas terhadap
minoritas yang tidak bisa didasarkan atas kemanusiaan dan ajaran agama apapun.
Kini jangankan di Indonesia, bahkan di Amerika Serikatpun, yang usia
demokrasinya sudah sangat dewasa, seorang Donald Trump yang mengusung isu “anti
asing” bisa begitu populer. Hal itu menunjukan bahwa ternyata masih banyak
warga Amerika yang berfikiran sempit.
Khusus bagiku adalah hal yang sangat aneh ketika
melihat seorang warga Indonesia apalagi Muslim mengusung sentimen SARA. Ajaran
Quran yang mana yang menyebutkan suatu suku atau ras diciptakan lebih lebih
tinggi atau rendah dibanding lainnya. Malah menurutku seseorang yang mengangkat
isu SARA tidak lain telah mengecilkan kekuasaan Tuhan dengan menganggap berkah
Tuhan hanya diberikan untuk kaum atau kelompoknya saja. Bukankah Al Quran
mewajibkan perlakuan adil kepada siapapun bahkan musuh sekalipun. Ajaran Islam
yang sungguh agung itu kini kerap dilupakan oleh pengikutnya, apalagi yang
sudah terikat kepentingan politik tertentu.
…Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum,
mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu
lebih dekat kepada takwa… (Q.S. Al Maidah : 8)
Baiklah, intinya marilah kita membuka sudut pandang
seluas-luasnya dan berhenti melakukan generalisasi. Tidak ada yang lebih sesat
dari generalisasi serampangan. Ada orang Tionghoa yang buruk, ada juga yang
baik. Ada orang Arab yang jahat, ada pula yang baik. Begitu pula pribumi dan
semua kelompok lainnnya. Ketika ada seseorang melakukan kejahatan, bukanlah
kelompok darimana orang itu berasal yang harus kita musuhi, melainkan perbuatan
buruk orang tersebut. Umat Muslim di seluruh dunia enggan diidentikan dengan
tindakan barbar segelintir teroris, maka jangan pula kita mengidentikan suatu
kaum berdasarkan tindakan segelintir anggotanya.
Tuh kan jadi malah melantur ke mana-mana. “Khutbah” di
atas kurasa cukup untuk menjadi pengantar kisah “Geger Pacinan di Batavia” yang
akan kuulas berikut. Kisah ini kuangkat kembali karena ada segelintir orang
yang lagi-lagi dengan pikiran sempitnya berusaha mengangkat kisah tersebut
untuk menyerang tokoh atau kelompok tertentu. Entah karena malas membaca atau
memang wawasan sejarahnya yang kurang, mereka menginterpretasikan peristiwa
pembantaian manusia yang menjadi catatan sejarah memalukan di Batavia ini seenake
udel-nya saja. Tanpa berpanjang lebar, berikut adalah kisah Geger Pacinan
sebagaimana disarikan dari buku “Hikayat Jakarta” karya Willard A. Hanna
(Yayasa Obor Indonesia – 1988). Semoga kita bisa mengambil hikmah darinya.
Tidak perlu lagi disebutkan riwayat hubungan dagang
yang terjadi selama ratusan tahun antara kerajaan-kerajaan pribumi dengan
negeri Cina sebelum kedatangan bangsa Eropa. Hubungan dagang antar kerajaan
asia tersebut berjalan dengan harmonis, tidak seperti Eropa yang cenderung
ingin menguasai (dengan segala cara). Untuk menegaskan pengaruhnya sebagai
penguasa utama perdagangan, Belanda perlu melemahkan kerajaan-kerajaan pribumi
serta seluruh pesaingnya. Karena kekuatan yang terbatas, maka Belanda
menerapkan konsep divide et impera yang terbukti efektif. Tindakan
Belanda dalam memenangi persaingan dagang, digambarkan dalam suatu kisah
berikut :
Suatu kali, misalnya, seorang berkebangsaan Cina
menggali terowongan di bawah gudang Inggris untuk meledakannya dan membakarnya,
kemudian merampok barang-barang di dalam gudang itu. Usaha ini, yang juga
melibatkan orang-orang Belanda, akhirnya gagal, bukan karena kurang seriusnya
para pelaku atau berkat kesiagaan korban, melainkan karena sial belaka.
Setelah kedudukannya semakin mantap, Belanda membentuk
pelabuhan Sunda Kelapa yang direbutnya dari Banten menjadi sebuah pusat
perdagangan terpenting di Asia Tenggara. Perkembangan itu menarik kedatangan
ribuan pendatang baru dari Eropa, Cina, dan daerah lain di Nusantara. Pelabuhan
yang kemudian dinamai Batavia itu dengan cepat diisi oleh jenis masyarakat baru
yang disebut Homo Bataviensis alias orang Betawi.
Orang Batavia asli umumnya bukanlah pribumi, melainkan
orang asing berdarah campuran atau berkebudayaan campuran pula.
Belanda selaku penguasa Batavia menerapkan kebijakan
rasialis. Orang Eropa menempati posisi teratas, bangsa asing di bawahnya, dan
pribumi di tingkat terbawah. Dengan itu rusaklah tatanan masyarakat sebelumnya
yang tidak memiliki batasan “kasta”. Salah satu dasar perlakuan diskrimasi
tersebut, seperti diakui Gub. Jenderal J.P. Coen adalah karena :
“Tidak ada tenaga yang lebih cocok untuk tujuan kita
atau yang dapat dikerahkan dengan sama mudahnya, selain orang-orang Cina”
Diterangkannya bahwa berlawanan dengan orang pribumi
yang berwatak malas, tak mudah diatur dan tak dapat dipercaya, Orang Cina,
sebaliknya, rajin, tidak kenal lelah, sangat terampil dan berdisiplin
kuat. Orang-orang Cina tentu saja tidak memiliki banyak pilihan kecuali
mengikuti pengkondisian yang diberlakukan kompeni. Namun yang pasti, untuk
mencapai visinya membangun Batavia sebagai pusat ekonomi terpenting, Coen
mendatangkan ribuan orang Cina untuk diberdayakan.
Mula-mula sekali, kapten-kapten kapal Belanda menculik
petani-petani dan nelayan-nelayan Cina di Pantai Cina untuk dibawa ke Jakarta
untuk dilelang sebagai kuli kontrak, tetapi tindakan ini segera terbukti tidak
perlu dilakukan. Adalah saudagar-saudagar Cina sendiri yang membawa kuli dari
Canton dan Amoy untuk dipekerjakan sebagai budak di Batavia. Setelah beberapa
tahun, budak-budak itu biasanya telah memiliki usaha sendiri, tak sedikit yang
menjadi kaya raya. Karena jumlah wanita dari bangsanya yang masih sangat sedikit,
sering terjadi perkawinan antara pendatang dengan pribumi, menghasilkan
masyarakat berdarah campuran atau indo.
Singkat cerita jumlah penduduk Cina di Batavia
meningkat dengan sangat pesat, membanjiri Batavia hingga ke pinggiran kota.
Pada awal abad-18 penduduk Cina kurang lebih telah mencapai jumlah 80.000
orang, kebanyakan bekerja di perkebunan, pabrik-pabrik atau berdagang. Sebagian
kecil lain melakukan kejahatan-kejahatan kecil atau kadang mengadakan
kekacauan. Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier lantas memutuskan untuk
menangkap secara besar-besaran dan mengekspor kelebihan buruh orang Cina ke
Ceylon (Srilanka). Kebijakan itu ternyata membawa resiko karena dijalankan
secara serampangan dan tak mengenal perikemanusiaan.
Ratusan, barangkali ribuan, orang Cina ditangkap dan
dideportasi. Beredar kabar bahwa yang ditangkap bukan hanya orang jahat
melainkan mereka juga yang baik-baik… Mereka diangkut dengan kapal dari
Batavia, konon kabarnya, mungkin dilempar ke laut jauh sebelum mereka mencapai
Ceylon.
Marah mendengar kabar itu, gerombolan-gerombolan orang
Cina di pinggiran kota melengkapi dirinya dengan senjata-senjata yang dirampas
dari penjaga Belanda, berencana menyerang kota. Pada akhir bulan September
1740, keadaan menjadi genting. Gub. Jenderal Valckenier memanggil Majelis
Hindia Belanda untuk mengadakan rapat darurat. Diputuskanlah anggota majelis
Van Imhoff dan Van Aarden untuk merencanakan dan mengambil tindakan seperlunya.
Pada awal bulan oktober, gerombolan-gerombolan Cina
menyerang dan menguasai kekuatan Belanda di Meester Cornelis dan Tanah Abang,
dan pada suatu ketika membinasakan 50 serdadu Eropa. Mencegah kekacauan lebih
lanjut, Van Imhoff mengerahkan 1.800 orang pasukan yang dipersenjatai untuk
melakukan pembersihan. Pada tanggal 8 Oktober, pasukan Belanda memukul mundur
serangan balasan Cina yang kuat di pinggir kota. Keesokan harinya, kerusuhan
besar terjadi di pemukiman orang-orang Cina : pembakaran gedung-gedung,
kerusuhan, para serdadu menembak ke arah khalayak ramai. Dan terjadilah kepanikan.
…Tiba-tiba secara tidak terduga seketika itu terdengar
jeritan ketakutan bergema di seluruh kota, dan terjadilan pemandangan
kebiadaban yang paling memilukan dan perampokan di segala sudut kota. Semua
orang Cina, tanpa perkecualian, pria, wanita dan anak-anak diserang. Baik kaum
wanita yang sedang hamil maupun bayi yang sedang menyusui tidak luput dari
pembantaian yang tidak mengenal perikemanusiaan. Para tahanan yang dibelenggu,
yang berjumlah ratusan orang itu, disembelih layaknya domba. Beberapa orang
Cina kaya, lari mencari perlindungan pada penduduk bangsa Eropa, yang tidak
menghiraukan segala prinsip kemanusiaan dan moral, menyerahkannya kepada
pemburu-pemburunya yang haus darah, lalu menyelewengkan harta milik yang
dipercayakan kepada mereka. Pendeknya, semua orang Cina, baik bersalah atau
tidak, dibantai.
Menurut laporan kontemporer, 10.000 orang Cina,
termasuk 500 orang tahanan dan pasien rumah sakit telah dibunuh, 500 orang lagi
terluka parah, 700 rumah dirusak, dan sejumlah besar barang berharga hilang
atau rusak. Orang-orang Eropa, baik militer maupun sipil, sama-sama bersalah
melakukan perampokan dan pembunuhan dengan pasukan-pasukan pribumi yang
dianggap lebih haus darah dan perampok itu.
Orang-orang Belanda yang berada di dalam kota Batavia,
di antaranya para anggota Majelis Hindia Belanda, terkejut atas apa yang
terjadi dan menetapkan satu hari masa berkabung yang ditujukan untuk penebusan
dosa dan kebaktian agama. Orang-orang dengan seketika melemparkan kesalahan.
Anggota dewan dan Gubernur Jenderal saling menuduh yang berujung pada
pengunduran diri Valckenier dari posisinya sebagai Gubernur Jenderal. Para Heeren
XVII (Direktur VOC) di Belanda yang telah menyelidiki laporan lantas
memutuskan untuk menahan Valckenier di kastil Batavia.
Proses itu berlangsung selama 10 tahun lamanya.
Valckenier mengajukan dokumen-dokumen pembelaan dirinya yang sedemikian
tebalnya, sehingga tidak ada orang yang sanggup mempelajarinya.
Akhirnya, setelah Valckenier meninggal tanggal 20 Juni
1751, pemeriksaan-pemeriksaan resmi ditangguhkan. Akan tetapi, selama
bertahun-tahun persoalan Valckenier tetap menjadi kasus Batavia yang
termahsyur. Belanda tentu saja tidak ingin kasus itu berkembang ke arah yang
lebih membahayakan. Bagaimanapun, Mereka tetap membutuhkan orang Cina sebagai
penggerak ekonomi di Batavia. Dalam satu periode setelah kejadian, jumlah penduduk
Cina di Batavia melebihi jumlah sebelumnya.
Pembunuhan masal orang-orang Cina di Batavia memicu
pemberontakan orang Cina di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang pada gilirannya
mengakibatkan kekacauan yang meluas di mana-mana termasuk di dalam kerajaan
Mataram.
Banyak orang Tionghoa pelarian dari Batavia berkumpul
dan menghimpun kekuatan melawan belanda. Seluruh pantai Jawa, dari Batavia
sampai Pasuruan memanas. Pusat revolusi berkembang di Semarang. Berkat
kecakapan Tai Wan Sui, pemimpin Tionghoa, maka Bupati-Bupati pesisir
menggabungkan diri dengan laskar Tionghoa. Sunan Mataram, yang merasa terancam
oleh keadaan itu berbalik mendukung VOC untuk memberantas pemberontakan.
Pemberontakan berhasil dipadamkan, namun sebagai gantinya, keraton Mataram juga
ikut runtuh. Politik divide et impera Belanda lagi-lagi berhasil.
Peristiwa persatuan para pemberontak Tionghoa dan
Pribumi dalam melawan Belanda itu beberapa waktu lalu diabadikan dalam
sebuah monumen “kontroversial” yang berlokasi di Taman Budaya Tionghoa Indonesia,
TMII Jakarta. Oleh sebagian orang-orang yang gemar menyesatkan sejarah, monumen
tersebut diidentikan dengan laskar tionghoa Po An Tui yang baru eksis dua ratus
tahun setelah peristiwa pemberontakan laskar Tionghoa dan Jawa guna melawan
Belanda. Aku percaya penyesatan sejarah itu dilakukan bukan tanpa alasan,
kecuali menimbulkan perpecahan. Strategi kompeni kembali diterapkan…
Demikian kisah singkat peristiwa Geger Pacinan yang
menjadi noda buruk dalam sejarah kolonialisme di Indonesia. Suatu peristiwa
yang memalukan bagi Belanda sehingga episode tersebut tidak banyak diekspose
dalam buku-buku sejarah bangsa mereka.
Adalah suatu hal yang aneh akhir-akhir ini, ketika
seseorang terkemuka di negeri ini mengangkat kisah itu untuk menekan kelompok
minoritas yang menjadi “korban” dalam peristiwa tersebut. Ya, hanya korban yang
harus mengambil hikmahnya, bukan para pelakunya yang tercatat dalam sejarah
sebagai pembantai tak berperikemanusiaan. Seakan-akan menjustifikasi tindakan
barbar yang dilakukan Belanda dan antek-anteknya hanya karena kepentingan
politik sesaat saja. Penyebab kejadian tersebut, bagaimanapun adalah kebijakan
kolonialisme Belanda, sedangkan lainnya hanyalah ekses. Bagaimana mungkin
seseorang yang mengaku nasionalis sejati bisa mendukung kebijakan kolonialisme
Belanda ? Silakan cari jawabannya sendiri. Aku hanya bisa berharap agar
masyarakat Indonesia bisa belajar dari sejarah, dan berhenti menggadaikan
persatuan bangsa yang telah dibentuk dari proses ratusan tahun demi kepentingan
politik sesaat. Jadilah orang-orang yang berfikir…




Tidak ada komentar:
Posting Komentar